POSISI ADMINISTRASI PUBLIK DI ERA INDUSTRI 4.O
Revolusi Industri merupakan sebuah fenomena terjadinya perubahan secara besar-besaran di
bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang
memiliki dampak terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi
Industri Pertama (1750-1830), ditandai
dengan penemuan mesin uap dan kereta api. Penggunaan mesin uap pada waktu itu
dimaksudkan untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan dalam produksi.
Revolusi industri pada saat itu juga berguna untuk melaksanakan mekanisasi
sistem produksi. Mekanisasi di sini bermakna penggunaan tenaga mesin dan
sarana-sarana teknik lainnya untuk menggunakan tenaga manusia dan hewan dalam
proses produksi.
Revolusi Industri Kedua
(1870-1900), ditandai dengan penemuan listrik, alat komunikasi, bahan-bahan
kimia, dan minyak. Revolusi industri pada tahap ini dapat digunakan untuk
melaksanakan konsep produksi massal. Revolusi
Industri Ketiga (1960 hingga sekarang), ditandai dengan penemuan komputer,
internet, dan telepon genggam. Revolusi industri ketiga ini dapat digunakan
untuk otomatisasi proses produksi dalam kegiatan industri. Revolusi Industri Keempat atau Revolusi Industri 4.0
pada
dasarnya tetap bertopang pada
Revolusi Industri Ketiga. Bedanya adalah Revolusi
Industri 4.0 mulai ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi, sehingga
kita melihat dan merasakan suatu era baru yang terdiri atas tiga bidang ilmu
yang independent, yaitu fisika,
digital, dan biologi.
Dalam bidang
Administrasi Publik, Revolusi
Industri 4.0 dikenal dengan sebutan Digital Governance yang berati bahwa dalam menjalankan tata kelola
pemerintahan, pemerintah memanfaatkan perkembangan teknologi (artificial intelegent) dengan
memanfaatkan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking
and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Salah satu contoh outputnya adalah munculnya
suatu keputusan kebijakan yang sifatnya global (Borderless State) seperti
SDG’s (Sustainable Development Goals) yang memiliki 17 tujuan dengan 169 capaian guna mengatasi masalah
bagi manusia dan planet bumi.
Bagi negara Indonesia, Industri 4.0 atau Digital Governance tidaklah mudah untuk untuk diterapkan dalam
birokrasi pemerintahan, setidaknya terdapat lima problem yang dihadapi,
yaitu:
1. Perkembangan Teknologi Convergent
2. Digitalisasi
3. Perkembangan Kebijakan Globalisasi
4. Tren Desentralisasi
5. Multipartai System
Namun, bukanlah sebuah hal yang buruk jika
Indonesia mencoba menerapkan Digital Governance, mengingat bahwa era saat ini muncul sebuah istilah MEGA
TREND 2030, yang berisikan
antara lain:
1. Globalization 2.0
Muncul istilah “From West to East” terutama
dalam bidang bisnis karena arus modernisasi
dari barat ke timur. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kebijakan strategis, bahwasanya
terdapat peluang besar bagi para pelaku
bisnis terutama
di wilayah Asia yang ingin bisnisnya
bertahan melampaui 2030. Contoh negara yang terkena Globalization 2.0 adalah China dan Jepang yang kini menjadi trendseter dalam bidang usaha dan
bidang lainnya.
2. Environmental
and Energy Crisis
Analisis perubahan iklim mengisyaratkan, keparahan pola-pola cuaca
yang berlangsung sekarang akan semakin meningkat pada 2030. problem iklim dan energy yang tidak sustainable dapat
menimbulkan perang negara terutama dalam penguasaan teknologi.
3. Demographic
and Social Change
Dalam hal ini sangat berkaitan mengenai regenerasi
manusia. Sebuah isu krusial contohnya adalah mengenai LGBT dan penduduk yang saat
ini lebih banyak usia tua. Dikhawatirkan bahwa pada 2030 akan sedikit generasi
muda yang memberikan inovasi bagi perkembangan dunia.
4. Digital
Era
Dalam poin ini sangat menyangkut mengenai Industri
4.0 dalam Administrasi Publik. Di era saat ini (Digital Era) kita dapat
dengan sangat mudah melakukan re-call perkataan sesorang khususnya
politikus dalam hal mengatakan janji-janji terdahulu, keputusan, kebijakan dll
sehingga sulit pagi pemerintah untuk mengingkari janji dan akan mempermudah
masyarakat dalam mengevaluasi kinerja pemerintah.
5. Technology
Convergence
Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik,
digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri
dan pemerintah yang dapat mengubah hubungan manusia.
Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru
diantaranya: robot kecerdasan buatan (artificial
intelligence robotic), teknologi nano, bioteknologi, teknologi komputer
kuantum, blockchain (seperti bitcoin),
teknologi berbasis internet, dan printer 3D.
Hasil dari
penerapan Industri 4.0 atau Digital Governance akan berbeda antara
negara maju dengan negara berkembang. Mengigat bahwa faktor kemakmuran antar
negara juga berbeda-beda, seperti:
1. Sumber Daya Alam (SDA)
Tidak diragukan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki
SDA yang sangat melimpah tidak seperti negera tetangga. Namun kenyataannya SDA
yang seharusnya menjadi sebuah potensi tidak dapat termanfaatkan dengan
optimal. Ekspor yang dilakukan sebagian besar masih berupa barang mentah atau
setengah jadi. Sangat jarang Indonesia mengekspor barang jadi, malahan
Indonesia mengimpor barang jadi tersebut dengan harga yang lebih mahal, padahal
barang tersebut merupakan produk dari hasil barang mentah yang diekspor dengan
harga murah.
2. Sumber Daya Manusia (SDM)
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam
hal sumber daya manusia, namun mayoritas SDM di Indonesia kurang berkualitas,
tidak hanya kalangan masyarakat saja, bahkan pemimpin dalam pemerintahan pun
juga bisa jadi tidak berkualitas. Jika dianalogikan bahwa presiden Indonesia untuk
memilih 11 orang dari jutaan penduduk untuk mewakili World Cup tidak
mampu, apalagi ingin mengatur dan memimpin orang se-Indonesia
3. Kekuatan System/ Institusi
Kaitannya dengan hal ini adalah berupa regulasi,
kelembagaan, birokrasi, institusi dll. Posisi administrasi public ada didalam
poin ini, yang mana institusi merupakan sebuah kekuatan bagi birokrasi. Karena
seluruh hal yang dibutuhkan birokrasi dipelajari dalam kuliah administrasi
public, seperti: teori organisasi, budaya organisasi, perilaku organisasi,
system informasi manajemen dll. Namun, terdapat paradox ketika mahasiswa maupun
alumni administrasi public mempelajari teori organisasi, budaya organisasi,
perilaku organisasi, system informasi manajemen dll tetapi tidak bisa
mempraktekan ilmu tersebut. Dilihat dari banyaknya birokrat yang tidak maksimal
dalam melayani public (pangreh praja). Jika diteliti secara mendalam, dapat
dilihat bahwa birokrasi Indonesia menganut system patronace yang berati
jika pimpinannya bagus maka bawahan akan otomatis mengikuti pimpinan.
Kelemahannya disini adalah tidak banyak pemimpin yang memiliki kualitas
mumpuni. Sebenarnya Indonesia sadar bahwa hal ini memerlukan perhatian khusus,
mengingat bahwa Strong Institution Partnership di dalam SDG’s merupakan
usulan dari Indonesia yang menjadi bagian untuk diimplementasikan di seluruh
dunia.
4. Kekuatan nilai budaya
Salah satu negara yang memiliki nilai budaya yang
bagus adalah Jepang. Jika Indonesia ingin meningkatkan nilai budaya seperti
Jepang, kunci utamanya ada pada pendidikan, adalah dengan melakukan perbaikan
pendidikan berkarakter 12 tahun selama masa wajib belajar, melakukan penanaman
budaya meritocracy, economy growth, prudential dan capability. Hal
ini bertujuan untuk melihat masa depan, membandingkan dan mereview/ mengevaluasi.
Masalah besar dalam hal nilai budaya yang dihadapi Indonesia saat ini adalah
budaya korupsi. Contoh: Produksi timah di Indonesia sebesar 96.000 ton/
tahun menurut pandangan masyarakat luar negeri. Namun kenyataannya data BPS
menunjukan bahwa Indonesia hanya dapat menghasilkan timah sebesar 26.000
ton/tahun. Sedangkan sisanya sebesar 70.000 ton/tahun masuk kedalam daftar illegal
maintaining. Ini menunjukan adanya institusi dan birokrasi/ kepala daerah/
pengusaha yang melakukan budaya korupsi.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari
kuliah pakar oleh Prof. Dr. Eko Prasojo kaitannya dengan perkembangan
administrasi publik di Indonesia adalah bahwasanya perkembangan administrasi di
Indonesia dalam era Revolusi Industri 4.0 atau yang disebut sebagai Digital Governance mulai menampakan
sebuah kemajuan. Dalam
menjalankan tata kelola pemerintahan, pemerintah saat ini telah memanfaatkan
perkembangan teknologi (artificial
intelegent) dalam pengambilan keputusan kebijakan public dengan memanfaatkan
4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem
Solving,
dan Creativity and Innovation). Salah satu contoh outputnya adalah munculnya
suatu kebijakan yang sifatnya global (Borderless State) seperti SDG’s (Sustainable
Development Goals) yang memiliki 17 tujuan dengan 169 capaian guna mengatasi masalah
bagi manusia dan planet bumi. Strong Institution
Partnership di dalam
SDG’s merupakan usulan dari Indonesia yang menjadi bagian untuk
diimplementasikan di seluruh dunia. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah
Indonesia menyadari pentingnya sebuah institusi sebagai kekuatan bagi birokrasi.
Administrasi
bersifat reformasi
yang berati never ending process (continuously). Hal ini bermakna bahwa
sekali birokrasi berhenti melakukan tugas dan fungsinya, maka akan sangat sulit
untuk memulai kembali, karena tuntutan masyarakat yang banyak dan terus
berkembang. Dari hal inilah birokrasi mencoba untuk selalu memperbaiki kualitas
dan kuantitas tidak hanya bagi orang yang sudah bekerja dalam birokrasi namun
juga pada calon birokrat nantinya. Dalam hal ini calon birokrat dapat disebut
sebagai mahasiswa Administrasi Publik yang di masa depan mayoritas akan
menduduki kursi birokrat. Mengingat bahwa semua hal yang dibutuhkan birokrasi
hanya ada dalam mata kuliah Administrasi Publik, seperti: teori organisasi, budaya
organisasi, perilaku organisasi, kebijakan public, formulasi kebijakan public, system
informasi manajemen dll. Mahasiswa Administrasi Publik diharapkan dapat melakukan
penanaman budaya meritocracy, economy growth, prudential dan capability.
Hal ini bertujuan untuk melihat masa depan, membandingkan dan mereview/
mengevaluasi sehingga budaya korup yang sering melekat dalam birokrasi dapat
diminimalisir atau bahkan dihilangkan.
Mahasiswa Administrasi Publik jika menjadi birokrat
diharapkan dapat menguasai kemampuan birokrasi era modern, karena hal ini juga
akan berdampak dalam pengambilan keputusan mengingat bahwa di era digital kini
masalah publik sangat mudah muncul ke permukaan dan membutuhkan penganganan
yang cepat, tanggap dan tepat. Kemampuan birokrasi era modern tersebut adalah:
1. Berinteraksi dengan Mesin Digital
2. Menerapkan Budaya Berbagai Informasi (Share
Culture)
3. Negotiation
and Global Communication
4. Multilevel
Governance and Collaborative Governance
5. Pemanfaatan Nilai dan Kebijaksanaan Lokal
6. Pengambilan Keputusan Multilevel Governance
Komentar
Posting Komentar